Belajar Reenactment dan Sejarah Bumi Hangus Boja, Merawat Ingatan Perlawanan

POTRET MAGELANG
4 Feb 2026 22:16
3 menit membaca

Potret Magelang – Boja, Kegiatan bertajuk “Belajar Reenactment dan Sejarah Bumi Hangus Boja, Kendal” digelar sebagai upaya merawat ingatan sejarah sekaligus mengenalkan metode belajar sejarah yang lebih hidup dan kontekstual. Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari pelajar dan peserta umum dari Boja, Semarang, hingga Klaten.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan diskusi kecil yang berlangsung di Taman Makam Pahlawan Setya Bakti Boja setelah sarapan pagi. Dalam pengantar kegiatan, penyelenggara Age Kharisma menyampaikan tujuan utama kegiatan, yakni mengenalkan sejarah singkat peristiwa Bumi Hangus Boja serta rangkaian kejadian pada Agresi Militer Belanda I dan II di wilayah Boja.

Peserta diajak memahami bagaimana pasukan Belanda memasuki Boja melalui paparan peta kuno dan dokumentasi gambar pasukan Belanda pada masa pendudukan. Boja sendiri dijelaskan sebagai kota kecil yang pernah menjadi pos strategis pasukan Belanda, sekaligus wilayah yang dianggap sejuk dan ideal untuk pemantauan serta pengendalian wilayah sekitar.

Materi utama disampaikan oleh Wawan Edi Setiawan, reenactor dan penggiat sejarah dari TRI Resimen Gunung Sumbing asal Kota Temanggung. Dalam paparannya, Wawan menjelaskan tentang apa itu Reenactor dan Reenactment, sebuah metode belajar sejarah yang tidak hanya bergantung pada buku atau film, tetapi melalui interaksi langsung dengan properti sejarah.

Peserta dikenalkan pada berbagai perlengkapan yang digunakan pada masa itu, seperti seragam tentara Belanda dan pejuang, teropong, unit persenjataan, hingga sistem pangkat kemiliteran. Wawan menekankan bahwa reenactment tidak bisa dilakukan secara asal-asalan, melainkan harus menyerupai kondisi dan atribut yang digunakan pada masa lalu agar nilai sejarahnya tetap terjaga.

Sementara itu, Tri Ruwanto, penggiat sejarah Kendal, turut memaparkan pergerakan maju pasukan Belanda di wilayah Kendal, Kaliwungu, Boja, dan sekitarnya. Paparan ini memperkaya pemahaman peserta tentang posisi Boja dalam konteks sejarah pertempuran yang lebih luas.

Usai sesi pemaparan, peserta diajak mengikuti praktik Reenactment atau Reka Ulang Adegan, dengan memadukan foto-foto lama peninggalan Belanda dan kondisi lokasi masa kini. Meski banyak tempat telah mengalami perubahan, peserta diajak “memasuki lorong waktu” untuk membayangkan bahwa di titik-titik tersebut pasukan Belanda pernah beraktivitas dan mendokumentasikan keberadaan mereka.

Melalui kegiatan ini, peserta—yang mayoritas merupakan pelajar—diharapkan dapat terpacu untuk mendalami sejarah bangsa secara lebih kritis. Sejarah tidak hanya dipelajari dari satu sudut pandang, tetapi juga dari sisi lain, termasuk memahami strategi dan keberadaan pihak lawan, tanpa menghilangkan nilai perjuangan para pejuang bangsa.

Kegiatan ini didukung oleh berbagai komunitas dan individu, di antaranya:

  • TRI Gunung Sumbing (Wawan Edi Setiawan)
  • exsara_suegeree (UNNES Semarang)
  • kompassman1k (SMA Negeri 1 Kendal)
  • kendal_tempo_dulu
  • Lab. AK (Age Kharisma) selaku penyelenggara Boja History
  • Tri Ruwanto, penggiat sejarah Kendal

Tujuan utama kegiatan ini adalah berbagi pengetahuan tentang sejarah dan reenactment, sekaligus merawat ingatan kolektif bahwa Boja–Kaliwungu pernah menjadi medan pertempuran, tempat para pejuang melakukan perlawanan gigih meski dengan persenjataan terbatas.

Ke depan, penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan dikembangkan melalui kolaborasi dengan komunitas, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat luas untuk menghadirkan kegiatan-kegiatan positif berbasis sejarah lokal.

Penulis: Overste West