Potret Magelang – Kota Magelang – Pameran Djeladjah Petjinan #7 digelar dalam rangka menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2026. Pameran ini bertujuan untuk mengenalkan sejarah dan budaya masyarakat Tionghoa, sekaligus menegaskan bahwa keberadaan masyarakat Tionghoa memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perjalanan Kota Magelang.
Bertempat di Lokabudaya Sukimin Adiwiratmoko, Kota Magelang, pada Jumat (6/2), pameran tersebut menampilkan beragam koleksi milik Komunitas Kota Toea Magelang (KTM). Sejumlah benda bersejarah dipamerkan, mulai dari artefak kehidupan masyarakat Pecinan hingga kesenian tradisional.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung adalah Wayang Potehi, seni pertunjukan yang merupakan wujud akulturasi budaya Tionghoa dan lokal yang sangat kental. Hingga saat ini, pementasan Wayang Potehi masih terus berlangsung di sejumlah daerah sebagai bagian dari pelestarian budaya lintas etnis.
Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, menyampaikan bahwa pameran ini juga mengangkat sisi sejarah ekonomi dan industri masa lalu.



“Tak hanya itu, kami juga menghadirkan pojok rokok yang memamerkan benda-benda penting dalam proses produksi rokok. Termasuk buku serta iklan-iklan rokok cerutu zaman dulu yang menarik untuk diketahui,” imbuhnya.
Selain pameran, awak media juga berkesempatan mengikuti kegiatan Bincang Pecinan dengan tema “Pecinan Kota Magelang Kini dan Esok: Upaya Menghidupkan Pecinan, Seperti Apa?”. Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dr. Yetty Setiyaningsih, SP, M.Eng, Kepala Bidang Ekonomi Prasarana dan Wilayah Bapperida Kota Magelang sekaligus Ketua IALI PP Jawa Tengah periode 2025–2028.
Narasumber lainnya adalah Eddy Harso Wibowo, S.T., M.T., kandidat doktor sekaligus warga Pecinan, serta Danu Wiratmoko, perwakilan masyarakat Kota Magelang. Diskusi tersebut membahas tantangan dan peluang dalam upaya menghidupkan kembali kawasan Pecinan sebagai ruang budaya, sejarah, dan interaksi sosial masyarakat kota.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Djeladjah Petjinan #7 diharapkan dapat menjadi ruang refleksi sekaligus dialog bersama untuk merawat warisan sejarah dan membangun masa depan Pecinan Kota Magelang yang lebih hidup dan berkelanjutan.(Azh)