Semarang – Paguyuban Wahyu Krido Budoyo dari Dusun Salam 2, Desa Salam, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, menjadi salah satu pengisi acara yang menarik perhatian pada rangkaian kegiatan Merti Dusun Krajan, Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Penampilan mereka yang tertata rapi, energik, dan tetap menjunjung nilai-nilai tradisi mendapat apresiasi luas dari masyarakat setempat.
Dalam kesempatan tersebut, salah satu pemain warok, Rafie, menyampaikan bahwa komposisi anggota paguyuban didominasi oleh generasi muda.
“Sekitar 90 persen pemain dan wiyogo adalah remaja atau generasi Z. Kami rutin melakukan latihan dan pementasan di berbagai daerah, bahkan sudah lintas kabupaten,” ujar Rafie.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa para anggota yang masih berstatus pelajar, mahasiswa, maupun pekerja tetap menunjukkan komitmen tinggi terhadap pelestarian seni tradisional. Di sela-sela aktivitas pendidikan dan pekerjaan, mereka konsisten menjaga jadwal latihan sebagai bentuk tanggung jawab untuk mempertahankan identitas budaya yang berasal dari desa mereka.



Rafie juga menyoroti peran generasi Z dalam menghadapi penetrasi budaya asing yang begitu kuat melalui media sosial. Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam dunia seni tradisi merupakan langkah strategis untuk mempertahankan eksistensi budaya lokal di tengah arus globalisasi.
“Pengaruh budaya luar sangat mudah masuk melalui media sosial. Karena itu, kami memanfaatkan platform digital bukan untuk meninggalkan tradisi, tetapi untuk memperkenalkan bahwa kesenian lokal juga memiliki nilai dan daya tarik tersendiri,” ungkapnya.
Kehadiran Paguyuban Wahyu Krido Budoyo pada Merti Dusun Krajan Bedono menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki ruang dan apresiasi, terutama ketika digerakkan oleh generasi muda yang memiliki kepedulian serta semangat pelestarian. Upaya mereka diharapkan dapat menjadi contoh bagi komunitas lain dalam mendorong keberlanjutan seni budaya lokal di tengah perkembangan zaman.(Azh)