Potret Magelang – Magelang — Di saat konten luar membanjiri layar dan cerita lokal kian tersisih, Grabag Chronicles muncul dengan satu sikap: melawan lupa.
Bukan tanpa alasan. Selama ini, banyak kisah tentang Grabag—dari sejarah, tradisi, hingga tokoh lokal—perlahan tenggelam, kalah oleh arus informasi yang tak pernah memberi ruang bagi cerita dari daerah.
Lewat sebuah acara yang digelar pada 19 April 2025 di Groundjava Cafe, Grabag, Magelang, Grabag Chronicles Project resmi diperkenalkan sebagai bentuk perlawanan terhadap kondisi tersebut. Kegiatan berlangsung lancar dengan energi kolaboratif yang kuat.
Sejumlah tokoh hadir dan memberi warna dalam momentum ini, di antaranya Bagus Priyana, Founder Komunitas Magelang Kota Toea, Wawan Overste sebagai aktivis sejarah militer, serta Tafta M dari Mbejujag.com. Turut bergabung member Komunitas Magelang Creator Hub, Grabag Nyenix,Insan Pers serta para penggiat sejarah Grabag.



Founder Grabag Chronicles, Joetex Al Fajar, menyampaikan bahwa proyek ini lahir dari kegelisahan yang nyata—tentang cerita yang terus kalah sebelum sempat didengar.
“Kita terlalu sering jadi penonton cerita orang lain, sementara cerita kita sendiri perlahan hilang. Grabag Chronicles hadir untuk membalik itu semua,” tegasnya.
Dengan pendekatan storytelling yang ringan namun tajam, Grabag Chronicles akan mengangkat kembali narasi-narasi yang selama ini tercecer—mulai dari tradisi, kuliner khas, tokoh inspiratif, hingga peristiwa unik yang membentuk wajah Grabag hingga hari ini.
Namun lebih jauh lagi, ini bukan sekadar soal konten. Ini soal posisi. Tentang apakah masyarakat akan terus membiarkan ceritanya diambil alih, atau mulai berdiri dan tegak menceritakan sejarah-sejarah besar dirinya sendiri.
Grabag Chronicles telah memilih jalannya.