Potret Magelang – Magelang – Pagi di Hutan Pinus Katonan, Ngablak, Rabu (1/1/2026), tak hanya diisi semilir angin dan aroma tanah basah. Tawa anak-anak, obrolan remaja, dan langkah-langkah kecil yang penuh semangat menyatu dalam satu tujuan: mencintai alam sejak dini.
Di sanalah Timbang Gabut #2 digelar. Sebuah kegiatan liburan yang diinisiasi oleh Remaja Masjid Al Falah bersama Rekiy Remaja Dusun Sawahan, Desa Grabag, Kecamatan Grabag, Magelang. Untuk kedua kalinya, mereka memilih tidak sekadar “menghabiskan” liburan, melainkan mengisinya dengan makna.
Sebanyak 125 peserta hadir—anak-anak, remaja, hingga orang tua yang setia mendampingi. Tak ada sekat usia. Semua larut dalam aktivitas yang sama: pelepasan burung sebagai simbol kebebasan alam, penanaman pohon sebagai janji masa depan, outbond yang menguatkan kebersamaan, hingga makan bersama yang terasa seperti piknik keluarga besar.

Bagi para penggagasnya, Timbang Gabut bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah ruang belajar terbuka.
Ketua panitia, M. Ghulam Zakiya, menyebut kegiatan ini sebagai upaya sederhana untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan dengan cara yang membumi.
“Kami ingin liburan sekolah tidak hanya dihabiskan dengan gawai. Anak-anak perlu dikenalkan langsung dengan alam, diajak menyentuh tanah, menanam, dan memahami bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” tuturnya.

Mengusung slogan “Ayo Liburan Tanam Kebaikan”, kegiatan ini secara konsisten digelar setiap liburan panjang. Konsepnya sederhana, namun pesannya kuat: mencintai alam bisa dimulai dari langkah kecil, dari komunitas kecil, dan dari kebiasaan yang terus diulang.
Di tengah tantangan krisis lingkungan dan berkurangnya ruang hijau, apa yang dilakukan para remaja di Grabag Magelang ini menjadi contoh bahwa gerakan pelestarian alam tak harus menunggu besar. Cukup dimulai dari niat baik, kebersamaan, dan kesediaan untuk turun langsung ke alam.
Saat matahari mulai meninggi dan kegiatan usai, mungkin pohon yang ditanam belum tampak besar. Namun nilai yang ditanam hari itu—tentang kebersamaan, kepedulian, dan cinta alam—telah tumbuh di hati para peserta. Dan dari sanalah, kebaikan pelan-pelan akan berakar. (Azh)
